Sunday, March 09, 2014

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Tiga



Data menunjukkan bahwa 90% wakil rakyat yang menjadi caleg adalah anggota legislatif sebelumnya. Dari data tersebut hanya sekian persen yang benar-benar aspiratif, menyalurkan, memperjuangkan dan menegakkan kepentingan konstituen. Sebagian besar dari data itu adalah mereka yang menggunakan kesempatan menjadi anggota dewan untuk jalan-jalan, mengembangkan bisnis dan (sayang sekali) menggunakan uang rakyat hmmm…

Semarak pesta demokrasi saat ini makin menggema. Namun semarak yang ada adalah perlombaan menempelkan leaflet di berbagai tempat, memasang bendera di mana-mana dan juga banner dan posko yang semrawutan. Bila leaflet itu dikumpulkan dan dijadikan buku tulis, berapa juta anak sekolah yang terbantukan dengan adanya buku gratis? Bila bendera dijadikan selimut dan baju, berapa juta orang yang akan memiliki baju dan selimut? Dan bila banner dan posko itu dijadikan bilik rumah, berapa ratus ribu keluarga akan mendapatkan rumah yang layak? Sayang sekali…

KPU dan pemerintah menggaungkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan pemilu tanggal 9 April. Namun melihat kondisi ini, agaknya kita hanya akan memilih yang jelek diantara terjelek. Tetapi, kata hati tak selalu demikian. hasil pemilu akan mengumumkan yang terjelak dari yang jelek. So, … maaf kalau memang saya memilih pesimis, toh yang akan terpilih kita juga sudah tahu.

Monday, September 30, 2013

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Doea

Banyak yang mencuri waktu, menyibukkan diri untuk yang tak ku butuh. Ataukah aku telah salah memilih? Just take it easy, cuz love is all around :)

Friday, November 16, 2012

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Satoe

Ah, masak tak ada pemimpin yang berani seperti Dahlan Iskan, Mahfud MD dan Ahok atau yang lembut tapi tegas seperti Jokowi, tidak nylanah-nyleneh seperti... (siapa ya) atau malah yang hanya normatif seperti... (siapa juga ya?). Kalo mimpin gaya normatif mah semua bisa tinggal dikasih otak. Toh negara ini akan berjalan dengan sendirinya. Gak perlu ada pemimpin bangsa yang cepat tanggap, toh rakyat akan bergerak dengan tangkasnya saat bencana. Saat resesi pelaku ekonomi akan berusaha membenahi diri dengan atau tanpa sang pemimpin normatif itu. Atau, ada juga sang pemimpin de ja vu, yang menginginkan masa lalu kembali lagi seperti saat ini. Dikira penduduk masa lalu itu hanya itu-itu saja, gak ada regenerasi. Dikira juga penduduk saat ini hanya bisa membedakan mobil dan motor saja? Mereka sudah bisa membedakan mana Avanza dan mana Fortuner, Bos! Jangan bermimpi ke belakang lah. Masa revolusi dulu hanya pake bambu runcing, sekarang semua tinggal klik.

Citra mencitrakan tak keliru, tetapi tak perlu lewat kata-kata. Kerja sono! Kerja yang banyak! Pikir banyak gak sampe keringetan dan keriputan gak terlelu penting. We need a leader equipped with a smart thought and fast action! Its already too late if we have to do lots of thinking! Debat bolehlah, tapi actionnya cepat! Jangan debatnya makan setahun sampai Undang-Undang menggantung. Setiap keputusan pasti ada resiko, lebih baik beresiko daripada milih diam. Sehingga kisruh makin dalam. Itu lebih beresiko Om. Lho koq Om? Tantenya mana? Well, tantenya katanya lagi sedih mikirin rakyat....(mikir mulu).