Sunday, December 30, 2007

Catatan seratoes tiga poeloeh toejoeh

28 Desember 2007

Kembali ke normal
Tadi pagi di gereja pendeta berkata: setelah selebrasi natal, saatnya kita kembali ke normal. Akupun hanya tersenyum kecil, mengingat natal kami yang dilalui dengan tinggal di rumah saja. Tak ada tradisi yang biasanya kami lakoni di kampung. Tak ada kunjungan, dan sebaliknya tak ada family yang bisa dikunjungi. Mereka hanya bisa dikunjung lewat telpon saja. Tak ada makan-makan yang di luar dari biasanya. Tak ada pelukan. Tak ada games. Tak ada! Siangnya, kami ke park, makan bersama. Padahal di hari-hari sebelumnyapun kami sering ke sana. Untungnya malam hari kami diundang Gavin dan Mimi, pasangan Ausie-Manado, ke rumah mereka. Kangen kampung halaman sedikit terobati. Besoknya, seharian kami tinggal di rumah. Mata sakit karena terlalu lama di depan TV. Habis sudah stok DVD blockbuster untuk jatah seminggu. Menonton ternyata juga capek. Kamipun keluar mengitari suburb. Di sana kami temui kesenyapan. Orang Townsville tak tahu pada ke mana. Untungnya Christmas eve diwarnai celoteh teman-teman serantau yang masih belum sanggup menerima perubahan mendadak ini . Di sana juga ada Dian yang membagi kado dan cerita, juga menemani kami di park siang harinya. Thanks, Dian.

Kembali ke normal, begitu kata Pendeta. Normal adalah keadaan yang sebelumnya kita lalui dan lakoni. Keadaan yang penuh gejolak. Di sana ada bombardir tugas yang harus diselesaikan. Di lingkungan sekitar ada pelecehan, pencurian, pengkhianatan, pembunuhan dan terorisme. Itulah normal! Hidup dilingkupi ancaman, bahkan ada yang sampai bereaksi berlebihan pada ancaman. Seperti yang dilakoni Herodes yang paranoid atas kelahiran bayi Yesus sehingga dia membunuh bayi-bayi di bawah 2 tahun di Betlehem dan sekitarnya. Ketakutan yang berlebihan ini bisa terjadi pada siapa saja. Banyak korban akibat ketakutan ini. Lihat saja si Munir, korban aksi 98 dan Benazir Bhutto! Dan masih banyak lagi yang terjadi pada individu maupun kelompok! Mereka digasak, hilang dan mati karena akumulasi ketakutan dari pihak penentangnya!

Semoga kondisi normal tahun ini berangsur menjadi tidak normal, yang dibaca sebagai meredanya ancaman hidup dan penghidupan. Balapan kotor dalam segala aspekpun menghilang sehingga paranoia mereda. Semoga (saja)!

Friday, December 28, 2007

Catatan seratoes tiga poeloeh enam

28 Desember 2007

Mengapa harus Benazir?
Pagi ini ku kabungi diriku sendiri. Seorang pejuang besar telah berpulang. Banyak orang besar menurut kacamataku berpulang dengan cara keji. Bayaran terhadap mimpi demokrasi dan reformasi kebanyakan membutuhkan tumbal. Kali ini yang terpilih adalah dirimu, ibunda. Tapi, ku tak tahu seberapa banyak manusia baik akan menjadi tumbal? Tumbal sebetulnya adalah hasil keserakahan pesaing yang tak mampu berdebat. Dia juga adalah klimaks dari sekian ketakutan para pesaing. Dunia ternyata masih tetap ganas.

Pulanglah ibunda. Pulanglah ke padang bunga abadi. Pada tempat dimana jiwa tak dibatasi raga lagi. Pada tempat dimana kau tak perlu bermimpi lagi karena disana adalah mimpi itu sendiri

Tuesday, November 06, 2007

Catatan seratoes tiga poeloeh lima

6 November 2007

Ada lima orang yang menarik perhatian saya di minggu terakhir ini. Empat orang bertemu muka sementara seorang lagi kutemui tanpa sepengetahuannya; aku menyusup di blog-nya (Wimar Witoelar). Keempat orang kutemui saat weekend kemaren selama perjalanan ke Cairns. Seorang yang masih muda dengan jins lusuh, tas lusuh dan ternyata adalah seorang professor di salah satu universitas di London. Kemudian seorang pemain rugby terkenal di Queensland, Darren Lockyer-sang kapten yang sementara berbulan madu ( Well, saya yang memburu dia tapi tak pernah sempat bicara). Dan di salah satu stand jualan kulit kanguru di Kuranda, saya bertemu dengan bekas dosen tamu di IKIP Singaraja. Yang meyakinkan saya adalah, dia berbahasa Indonesia dengan baik, sedikit bahasa Bali dan pengetahuannya tentang Singaraja. Orang terakhir adalah seorang kakek bernama Brad yang kami temui di Cardwell sebuah kota kecil antara Townsville-Cairns. Dia bercerita banyak tentang buaya dan budaya. Walau tak pernah ke Indonesia tapi dia mengetahui banyak bahasa Indonesia. Hari ini kutemui seorang Wimar. Ekspresinya hanya lewat kata-katanya saja, tak ada gelak dalam blognya. Kesamaan kelima orang ini adalah: mereka semua sederhana. Tampang (appearance) bisa ditutupi dengan jins belel atau apa saja tapi wawasan tidak, karena dia akan keluar lewat pancaran mata dan kata-kata.