Walaupun begitu romantis (apalagi dimainkan oleh salah satu aktor andalanku) namun Déjà vu menyisakan teki-teki di kepalaku. Teka teki yang tak berhubungan dengan romantisme namun dengan ketakmampuanku mengingat pelajaran fisika dulu, sehingga yang ada adalah aku tergagap kagum namun tolol saat mendengar kaidah yang dipakai dalam melacak kehidupan di masa lalu yang ternyata didasari atas teori Einstein. Teka teki dimensi kehidupan lain yang paralel yang berusaha digambarkan dari film itu. Apakah dalam kenyataan Déjà vu memang adalah kehidupan paralel yang bisa saja lebih dahulu daripada kehidupan sekarang?
Friday, June 01, 2007
Catatan seratoes doea poeloeh doea
Walaupun begitu romantis (apalagi dimainkan oleh salah satu aktor andalanku) namun Déjà vu menyisakan teki-teki di kepalaku. Teka teki yang tak berhubungan dengan romantisme namun dengan ketakmampuanku mengingat pelajaran fisika dulu, sehingga yang ada adalah aku tergagap kagum namun tolol saat mendengar kaidah yang dipakai dalam melacak kehidupan di masa lalu yang ternyata didasari atas teori Einstein. Teka teki dimensi kehidupan lain yang paralel yang berusaha digambarkan dari film itu. Apakah dalam kenyataan Déjà vu memang adalah kehidupan paralel yang bisa saja lebih dahulu daripada kehidupan sekarang?
Catatan seratoes doe poeloeh satoe
Kamis 31 Mei 2007
Dua hari lalu aku disapa seorang wanita aborigin paruh baya di sebuah stasiun bis. ”Wah, baju mu bagus”, katanya. I was so surprised, aku pun menjawab dengan sedikit senyum, thank you. Diapun menyambung, you know I am from Palm Island sambil mengulurkan tangan untuk berjabat. Tak lama aku terdiam, sambil mengulurkan tanganku aku menjawabnya, well I’ve never been to Palm Island but I’ve been to Orpheus Island, the one close to your island. Mengetahui bahwa aku tahu Palm Island dengan semangat diapun bercerita tentang Orpheus Island and other islands around it including Palm Island itself. Aku terdiam dan menatap dalam-dalam mata wanita ini dan sesekali berpindah pada mulutnyayang terus komat kamit dan merasakan getaran tangannya. Tiba-tiba dia beralih ke cerita bahwa dia mengidap diabetes, aku terharu sejenak sampai akhirnya dia berkata, you got two dollars for me? She got pain but she is drunk, pikirku. Mataku beralih ke seorang laki-laki kulit putih duduk mengangkat kaki yang menjadi sandaran si wanita ini. Dia lagi asyiknya meneguk bir dan berusaha menghindari tatapanku. Please, just two dollars cause I want to buy medicine. Oo, I am sorry, jawabku cepat, the money is only for bus ticket. Ku berusaha untuk tetap tersenyum. She insisted me tapi aku tetap menjawab dengan jawaban yang sama dan kuputuskan untuk berlalu. Laki-laki di sampingnya tetap saja asyik menenggak alkohol dan wanita itupun kembali bersandar di kakinya.
Dua hari lalu aku disapa seorang wanita aborigin paruh baya di sebuah stasiun bis. ”Wah, baju mu bagus”, katanya. I was so surprised, aku pun menjawab dengan sedikit senyum, thank you. Diapun menyambung, you know I am from Palm Island sambil mengulurkan tangan untuk berjabat. Tak lama aku terdiam, sambil mengulurkan tanganku aku menjawabnya, well I’ve never been to Palm Island but I’ve been to Orpheus Island, the one close to your island. Mengetahui bahwa aku tahu Palm Island dengan semangat diapun bercerita tentang Orpheus Island and other islands around it including Palm Island itself. Aku terdiam dan menatap dalam-dalam mata wanita ini dan sesekali berpindah pada mulutnyayang terus komat kamit dan merasakan getaran tangannya. Tiba-tiba dia beralih ke cerita bahwa dia mengidap diabetes, aku terharu sejenak sampai akhirnya dia berkata, you got two dollars for me? She got pain but she is drunk, pikirku. Mataku beralih ke seorang laki-laki kulit putih duduk mengangkat kaki yang menjadi sandaran si wanita ini. Dia lagi asyiknya meneguk bir dan berusaha menghindari tatapanku. Please, just two dollars cause I want to buy medicine. Oo, I am sorry, jawabku cepat, the money is only for bus ticket. Ku berusaha untuk tetap tersenyum. She insisted me tapi aku tetap menjawab dengan jawaban yang sama dan kuputuskan untuk berlalu. Laki-laki di sampingnya tetap saja asyik menenggak alkohol dan wanita itupun kembali bersandar di kakinya.
Wednesday, May 16, 2007
Catatan seratoes doea poeloeh
Saat bekerja dengan mikrotom di lab histologi kemaren, masuklah seorang wanita langsung menuju ke ruangan kepala lab. Sayup-sayup terdengar percakapan yang langsung get to the point. Si wanita itu menanyakan tentang apa yang seharusnya dia lakukan dengan sampelnya supaya tak mempengaruhi janin yang dikandungnya. Si kepala lab meyakinkan lagi apakah dia memang hamil, dengan semangat si wanita itu mengatakan: Iya. Saat itu juga ruangan menjadi gegap gempita oleh kejutan sang kepala lab terlebih lagi dari teriakan seorang wanita yang bekerja di sampingku. Ternyata dia juga memperhatikan percakapan mereka. Sejenak si wanita yang bekerja disampingku menghentikan pekerjaanya. Buru-buru dia menuju ke wanita hamil itu. Ow, mereka temenan ternyata, kupikir bukan, soalnya dia tak mengacuhkan si wanita hamil itu saat dia masuk. Mereka berangkulan and share the happiness. Pembicaraanpun berlanjut berdasarkan atas beberapa pertanyaan seperti: gimana reaksi kekasihmu saat mengetahui kau hamil? Gimana sampai kau tahu kau hamil? Yakinkah dirimu? Kamu tes sendirikah? Sampai pada rada statement yang menggelikan:... ehh untung kau hamil sekarang, coba kau hamil saat memasuki musim panas? Mereka berduapun terkekeh meninggalkanku berguman sendirian: masuk akal juga ya?
Jam delapan malam aku pulang kantor. Maunya naik bis karena sudah gelap dan dingin, tapi aku sedih meninggalkan si kumbang sepedaku yang sudah sempat nginap semalam di parkiran sepeda. Sebetulnya bukan sedih sih, namun takut. Jangan membuka peluang yang kedua kali bagi si pencuri! Itu yang selalu berputar-putar di kepalaku. Pada saat yang bersamaan banyak bisikan di telingaku mengatakan, kamu ingin sepedamu hilang kayak si A, si B, si C, dst. Pencuri tak mengenal negara modern maupun negara berkembang! Di jalan ku bertemu temanku si wanita Taiwan yang sementara mengambil PhD di bidang nursing science. Sama seperti beberapa malam lalu, dia berjalan sendiri dengan tas (kalo boleh ku katakan koper) ditarik sepanjang jalan. Apakah ini dilakukannya setiap hari? Dia lagi hamil besar, suaminya lagi bertugas di negaranya. Iya, dia menjalani kehamilannya dari awal sampai sebesar ini tanpa ditemani siapapun. Two thumbs for you! Saat ku tegor, ekspresi wajahnya berubah seperti mendapatkan rejeki besar. Apa ini, pikirku? Dengan Tailish (Kenapa? cuman Singlish yang boleh?) diapun mengungkapkan keinginannya. Kukira dia memintaku untuk membantunya saat hari H tiba, kan aku sudah pernah mengatakannya tempo hari, just ring me if you need a help when the time comes! Ternyata bukan itu, dia memintaku mencari orang yang dia bisa sewa untuk membantunya saat dia pulang dari rumah sakit nanti. Its just for three weeks or a month, dia bilang. Singaporean lady yang berjanji padanya tempo hari tiba-tiba menarik diri. Aku menyanggupinya! Di kegelapan jalan pulang (mungkin orang ausie lagi hemat energi, kata Icha), aku senyum sendiri, aku beruntung mendapatkan cerita beruntun tentang orang yang beruntung, hari ini!
Subscribe to:
Posts (Atom)