Thursday, November 18, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh tiga


Tiga kali usaha mungkin belum cukup. Tapi tiga kegagalan ini cukup memukulku. Di luar masalah teknis, interpretasi proposal sebetulnya adalah masalah selera. Sehingga ku pikir kenapa proposal ku ditolak karena masalah selera reviewersnya. Atau mungkin masalah 'teknis' di luar teknis.

Aku memang tak berharap agar semua proposalku diterima. Namun, setidaknya satu saja cukup bagiku. Tapi, ternyata memang tak ada satupun yang diterima.

Kupikir semua mahfum bahwa membuat proposal penelitian ujungnya adalah publikasi. Dikti-pun malah mensyaratkannya. Tapi ternyata tak sedikit juga hasil penelitian yang dibiaya mereka berujung pada laporan penelitian saja. Apakah publikasi yang ku buat selama ini tak cukup? Ataukah karena sangat sedikit publikasi yang kutulis untuk jurnal dalam negeri? Atau karena ini kali pertamaku meminta dana penelitian dari sumberdana dalam negeri? Itukah ukuran kompetisi mendapatkan hibah  penelitian?

Aku masih tak tahu. Yang jelas, aku kecewa. Padahal aku sudah berangan-angan bahwa akan ada minimal dua publikasi untuk jurnal internasional.

Kenapa jurnal internasional? Ku pikir, bila kita mampu memublikasi hasil penelitian kita di jurnal Internasional, hal itu akan mengumandangkan lebih banyak lagi informasi dari Indonesia. Dan satu anganku, agar orang luar tak memandang rendah Indonesia lagi. Itu kebanggaanku. Tapi, kenapa kebanggaanku luntur oleh kondisi kompetisi mendapatkan hibah penelitian dalam negeri?

Dengan memublikasikan karyaku di jurnal internasional tak ada sekalipun aku memicingkan mata untuk jurnal dalam negeri. Aku sangat menghargainya! Namun, sejauh ini kupikir belum ada jurnal dalam negeri dalam ranah penelitianku yang telah menjadi jurnal internasional. Aku menantikannya sekaligus berencana membuatnya. Semoga saja bisa kelak, bila dunia tak berubah. Karena perubahan adalah
kondisi yang tak bisa dielakkan; entah itu dari dunia atau dari diriku.

Thursday, October 14, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh doea: Indomie oh Indomie...


Aku memang bukan penggilamu. Jadi, jangan kau pernah merasa tersanjung.Sejak dulu aku didoktrin bahwa kalau makanan instant pasti punya pengawet. Sehingga akupun berusaha menghindari memakanmu sebisaku. Tapi, walau kenanganku denganmu sedikit kau lebih melekat di nadiku daripada makanan instan lain. Nama Indomie-mu itu mungkin yang membuatmu nempel terus kayak perangko.
Kuingat lebih dari  dua belas tahun yang lalu di kota kecil bernama Aarhus. Sebuah kota yang jauh dari nafas Indonesia dulu. Walau kota ini terbesar kedua setelah Kopenhagen tapi kupikir ukuran kota ini belum mampu menandingi Manado. Karena dalam sehari saja aku bisa mengelilinginya dengan sepeda.

Di kota ini cintaku pada Indomie terjelma. Setelah kemampuan adaptasi terhadap makanan cukup lumayan (pizza setiap saat lunch dan roti saat breakfast) ternyata kemampuan adaptasi ini tak menyurutkan rasa kangen akan rasa Indonesia. Kupikir, aku bisa bertahan tanpa makanan Indonesia. Namun, kemampuan adaptasi toh surut juga dengan rasa kangenku. Syukurlah, di pojokan pertokoan dekat gereja yang sekali setahun saja dikunjungi orang kudapatkan makanan mirip Indomie. Tom Yum kata mereka. Padahal nama itu merujuk pada makanan khas Thailand. Jadi yang dijual di toko saat itu adalah makanan khas  Thailand yang dikeringkan seperti  Indomie. Tak masalah, kupikir Tom Yum akan mengobati rasa rinduku, kan sama bentuk dan kemasannya? Untuk pertama kalinya aku merasakan makanan Thailand yang ternyata (maaf) kesan pertamaku tak mengenakkan. Asam rasanya! Kupaksa juga dengan Tom Yum ini yang ternyata memaksa bosanku untuk memberikan sisa bungkusan yang ku beli kepada teman ku. Bosan yang tidak hilang walaupun kudapatkan juga Kopiko dari Mayora di toko yang sama.

Kangenkupun terbayar sudah. Walau cukup lama menunggu, di sebuah toko dekat halte bis di pusat kota, kudapatkan indomie. Ku tahu, teman-temanku pun kangen akan dia. Tapi aku lupa kalau siapa duluan menemukannya. Yang jelas, saat itu juga kangenku muncul. Ku borong berbungkus-bungkus indomie, kusediakan stok untuk beberapa hari ke depan. Ternyata, benar! Indomie memang enak dan praktis. Dialah yang membangkitkan rinduku pada kampung.

Enam tahun kemudian aku ke Australia. Di sana Indomie malah ditawarkan dalam berbagai variasi. Andalanku, mie goreng dan mie kuah rasa soto. Walau McD dan KFC ada di mana-mana dan praktis. Indomie tetap saja menemaniku ku dan keluarga. Kepraktisan Indomie bila tengah malam tiba dan malas menyambangi McD dan KFC (padahal keduanya juga makanan instan yang tak menyehatkan). Kepraktisan indomie juga terjelma saat asyik kerja di rumah sendiri dan lapar tiba-tiba datang.

Sayangnya, makanan praktis memang bukan tanpa efek. Walau ku berusaha menghindarinya namun daya magisnya kuat. Aku kecanduan! Sayangnya itu hanya berlaku di luar negeri. Kumemakluminya. Karena ku pikir rasa indomie memang wajar mewakili rasa Indonesia. Sementara rasa Indonesia susah dibedakan bila dimakan di Indonesia pula.

Ini obituariku tentang Indomie yang tinggal menunggu hari lenyap dari Taiwan. Salam kangenku.

Wednesday, September 22, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh satoe

I miss you daddy... Pagi ini aku bangun dan mengingatmu. Tak banyak lagi mimpi-mimpi mu yang harus ku capai. Bahkan banyak yang sudah melampaui mimpimu. Tapi, kau tak bersamaku saat mimpi-mimpi itu kucapai. Kau telah jauh, daddy. Ini adalah bagian dari Thesis S3 ku...: 
"This Thesis is dedicated  to my Dad, who already went home: hope you could forgive me, Dad?"