Wednesday, July 05, 2006

Catatan enam poeloeh enam

Rabu, 5 Juli 2006. Mengalahkan Sang Aku Sejauh mana diri membatasi diri bahwa dia punya batas? Tak tahu dan tak terukur, jawabku. Ketika kita mengetahui bahwa diri kita punya batas, saat itu kitapun tak mengetahuinya. Yang menghambat diri mencapai batasnya adalah ketakutan dan kekuatiran. Saat diperhadapkan dengan suatu keadaan, diri hanya mengukur diri berdasarkan imajinasi yang direkayasa otak atas fakta. Sementara fakta di suatu tempat dan di suatu masa belum tentu berlaku di masa lain dan di tempat lain. Hal ini dipercaya diri, namun, toh yang namanya diri tetap saja tak mau peduli. Kata sebagian orang itu adalah faktor genetis, orang lain juga mengatakan bahwa faktor psikologi memegang peranan penting dalam mengambil keputusan. Lebih parah lagi, apresiasi ”takut” orang tua sering dipaksa-wariskan kepada anak-anak. Bahkan hal yang paling sederhanapun ditegor,”jangan berputar-putar nanti pusing”. Tak tahulah apa latar di belakang itu, namun aku dan keluargakupun muncul di acara Townsville day yang menampilkan permainan-permainan yang menciutkan nyali dengan satu tekad, just for fun! Ketika kita berteriak mengalahkan ketidakberdayaan diri atas keperkasaan roller coaster, mega drop, scorpion, dan entah apalagi permainannya. Dan... ups, bau pesing ternyata merajalela di setiap arena penciut nyali, padahal toiletnya jauh... Thanks to Bryan & Arla for the complimentary tickets click here for more photos

Friday, June 09, 2006

Catatan enam poeloeh empat

Jumat, 9 Juni 2006. Bangganya anakku menjadi “pohon”. Mendapatkan peran dalam suatu pertunjukan sekolah adalah sangat menyenangkan. Walaupun menampakkan wajah yang menolak malu-malu namun hati berbicara lain. Dia bersorak! Apalagi kalau mendapatkan peran utama. Nadine tidak mendapatkan peran utama dalam pertunjukan di kelasnya. Pertunjukkan yang mengisahkan penyelamatan sang Putri oleh seorang Pangeran. Bersama dengan beberapa temannya, dia menjadi pohon yang tak lebih dan tak kurang hanya berdiri tegak dan tumbang saat Pangeran mengayunkan pedangnya. Namun, peran itu sangat disukainya. Saat pertama kali dia mengatakannya dengan begitu menggebu pada kami berdua, aku tertegun. Hati kecilku yang sombong berkata:”kenapa tak menjadi sang putri atau salah satu peri?” Aku bersama istrikupun tersenyum geli. Kami berdua berpikir sama. Kami berdua berpendapat, apa artinya peran sebagai pohon, kenapa tak menjadi salah satu peri atau putri? Namun, kami berdua tetap mendukung dia, membeli baju hijau dan beberapa pernik pohon, dll. Seiring dengan penantian hari H pertunjukkan, anakku tak menampakkan wajah murung bila pertanyaan yang sama ku ulang,”kenapa jadi pohon?” Begitu excited-nya dia menjawab, kalau pohon dia akan dihias dengan kertas hijau, wajah akan dicat hijau dan berbagai pernak-pernik pohon akan dipakainya, dst...dst. Kebanggaan yang makin menggebu dipancarkannya. Akupun merenung, menantang pongahku. Betapa bijaksananya sang guru yang membagi peran, dia berhasil membawa anakku pada pemahaman bahwa menjadi pohonpun sangat berarti. Ketika ku membandingkan dengan keinginan manusia yang muncul sejak kecil untuk dihargai (it’s about Maslow’s again), pelajaran ”menjadi pohon” ini membawaku pada pemahaman bahwa peran utama bukan segalanya. Hari H pun tiba, orang tua murid berkumpul di kelas, menyaksikan pertunjukkan anak-anaknya. Pertunjukan diawali dengan merunduknya semua pohon di tanah. Senyap sejenak. Sang putripun memasuki stage, menuju ke puri di tengah ”pepohonan”. Di sana dia bersenandung kemudian tertidur (katanya dia tertidur 100 tahun). Kemudian masuklah peri yang membawa majic wand, mereka bergembira mengitari pepohonan. Pohon-pohonpun bersorak dan menari. Tiba-tiba muncullah sang pangeran, dia melihat dari kejauhan puri yang ada di tengah hutan. Makin dekat ke arah puri, jalannya makin terhalang. Diapun terpaksa memotong pohon-pohon yang menghalanginya, suasana menjadi mencekam. Namun, setelah dia mendapatkan sang putri semua pohonpun bangun dan bersorak. Akhirnya, mereka berdua dinikahkan oleh sang bishop. Akhir cerita, merekapun semua berbahagia. Plok plok plok...suasana riuhpun terdengar dari orang tua murid, menyoraki anak-anaknya di panggung. Sampai... tiba-tiba seorang ibu masuk ke kelas dan berteriak; ”the ticket man is coming! The ticket man is coming!” Suasanapun berubah, semuanya bergegas ke tempat parkir kendaraan. Kelas tiba-tiba senyap. Jatah setengah jam parkir mobil di depan sekolah ternyata sudah lewat. Malangnya, satu mobil terlanjur kena denda.

Monday, June 05, 2006

Catatan enam poeloeh doea

Senin, 5 Juni 2006. Tersenyumlah Jogjaku... Kenapa musti Jogja? Kalimat itu terlintas berkali-kali di benakku. Bahkan jauh sebelumnya kalimat yang sama juga melintas saat bencana melanda Nabire, Aceh dan Nias. Akhirnya pertanyaan itupun melebur luruh seiring dengan ketidakmampuanku mengira-ngira mother nature. Walaupun toh hati ini teriris melihat beruntunnya bencana yang memorak-porandakan bangsaku. Kenapa Indonesia? Bangsa yang bergelut dengan persoalan menumpuk peninggalan masa lalu: utang & kemiskinan (dua dari sekian warisan yang bisa kusebut). Tak layakkah negaraku berdiri sederajat dengan negara yang berhasil menekan jauh kemiskinan dan kebodohan? Oooh, pertanyaan-pertanyaan yang tak ku tahu siapa yang akan menjawabnya, merekapun luruh lagi. Tapi, kuingin Jogjaku tersenyum lagi. Aku bukan pemilikmu, namun Aku adalah salah satu yang melintas tanahmu tepat sepuluh tahun yang lalu. Menikmati malam di Malioboro. Aku yang ternyenyak dengan senyummu di andong melintasi liku jalanmu, terbuai dengan alunan musik keraton dan kenyang dengan nikmatnya gudeg. Gambar di atas berasal dari kaos produk Dagadu kesayanganku, pemberian sahabat karibku.