Monday, September 30, 2013

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Doea

Banyak yang mencuri waktu, menyibukkan diri untuk yang tak ku butuh. Ataukah aku telah salah memilih? Just take it easy, cuz love is all around :)

Friday, November 16, 2012

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Satoe

Ah, masak tak ada pemimpin yang berani seperti Dahlan Iskan, Mahfud MD dan Ahok atau yang lembut tapi tegas seperti Jokowi, tidak nylanah-nyleneh seperti... (siapa ya) atau malah yang hanya normatif seperti... (siapa juga ya?). Kalo mimpin gaya normatif mah semua bisa tinggal dikasih otak. Toh negara ini akan berjalan dengan sendirinya. Gak perlu ada pemimpin bangsa yang cepat tanggap, toh rakyat akan bergerak dengan tangkasnya saat bencana. Saat resesi pelaku ekonomi akan berusaha membenahi diri dengan atau tanpa sang pemimpin normatif itu. Atau, ada juga sang pemimpin de ja vu, yang menginginkan masa lalu kembali lagi seperti saat ini. Dikira penduduk masa lalu itu hanya itu-itu saja, gak ada regenerasi. Dikira juga penduduk saat ini hanya bisa membedakan mobil dan motor saja? Mereka sudah bisa membedakan mana Avanza dan mana Fortuner, Bos! Jangan bermimpi ke belakang lah. Masa revolusi dulu hanya pake bambu runcing, sekarang semua tinggal klik.

Citra mencitrakan tak keliru, tetapi tak perlu lewat kata-kata. Kerja sono! Kerja yang banyak! Pikir banyak gak sampe keringetan dan keriputan gak terlelu penting. We need a leader equipped with a smart thought and fast action! Its already too late if we have to do lots of thinking! Debat bolehlah, tapi actionnya cepat! Jangan debatnya makan setahun sampai Undang-Undang menggantung. Setiap keputusan pasti ada resiko, lebih baik beresiko daripada milih diam. Sehingga kisruh makin dalam. Itu lebih beresiko Om. Lho koq Om? Tantenya mana? Well, tantenya katanya lagi sedih mikirin rakyat....(mikir mulu).

Thursday, August 09, 2012

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh

Hampir setahun tak ada goresan tulisan, padahal begitu banyak goresan yang tak tertulis tapi mewarnai hari-hari. Tak apa karena bagiku, bila memang tak tertulis dia tetap ada di dalam peradaban. Menggema dari zaman ke zaman, walau mungkin hanya lewat rasa dan de ja vu. Tak peduli bahwa hari itu bergores merah atau hitam tetapi saat ini memang aku butuh semangat! Sepertinya dia hilang terlalu lama bersama kuatir, terlalu asik bercengkerama bersamanya. Sayang sekali dia selalu dihimpit kuatir sehingga pada permainan petak umpet kali ini dia tak berani muncul. Terlalu jauh dia lari.

Dikala gundah pada ketaktentuan, ku terkesima pada pernyataan seorang temanku tentang kemerdekaan diri dan keterbatasan sosial ketika ada yang mengklaim bahwa menjadi salah satu bagian dari negara, agama dan suku merupakan pernyataan kekerasan. Dan ini digaungkan oleh salah satu tokoh yang aku kagumi. Sayang sekali pemahaman ini sebetulnya mengekang kebebasan dan merupakan bagian dari kekerasan. Untung saja temanku menghilhamkan hal yang penting bahwa "keterikatan" pada sesuatu yang kita ingini atau bahkan pujai sebetulnya adalah kebebasan kita. Yang menjadikan dia beratribut kekerasan ketika kita merasa superior atas kelompok sejenis lainnya; yang terbaca sebagai dominasi/tekanan mayoritas dan/atau tirani kaum minroitas. Inilah kekerasan yang sebenarnya!

Terlepas dari itu, aku butuh semangat tambahan hari ini! Tapi kepada siapakah kan kuminta?