Wednesday, April 06, 2011

Catatan seratoes enam poeloeh lima


Hari ini aku mencoba berjalan bersama angan. Waktuku tersita dan tak mengizinkan hayalku untuk menjelajahi misteri alam dan waktu. Semuanya hilang demi mendapatkan ongkos hidup. Apakah aku salah memilih sehingga ongkos hidup tak sesuai harapan? Ah, tak apa. Kata orang sabar sedikit. Mungkin  kesabaran itu ada manfaatnya kelak.

Tapi minggu ini, aku menyempatkan untuk mengasah hayalku lagi. Sekalian membentuk alur masa depanku. Mendapatkan alternatif jalan A sampai Z menuju ke Roma yang katanya banyak jalan masuknya. Bagiku, menjadi dosen jangan miskin. Namun, menjadi dosen yang mengandalkan mahasiswanya sebagai sumber ongkos hidupnya  tak lebih dari seorang pemeras. Hartanya penuh dengan sumpah serapah dan kutukan. Aku tak mau itu. Aku tak mau sumpah serapah dan kutukan menyertai mobil, rumah dan kesenanganku. Kalau toh kelak aku memilikinya.

Sayang sekali, figur dosen cukup dilematis. Apalagi pada universitas yang sedang berkembang. Ketika tuntutan memenuhi tri darma (pendidikan & pengajaran, penelitian, dan pengabdian) dipenuhi, tuntutan itu tak dibarengi dengan hak yang semestinya diterima. Sayangya....

Wednesday, December 15, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh empat


Suasana hati ini begitu tak menentu tapi sungguh menyenangkan
Tak menentu karena banyak yang simpang siur di jalan hidupku namun menyenangkan karena setidaknya ada momen yang membekas dan tentu saja membahagiakan
Godaan untuk kembali ke luar negeri cukup kuat. Godaan untuk kembali ke mimpi-mimpi yang pernah hilang. Walau tak bisa dipungkiri ada banyak kebosanan juga di sana, namun kemapanan dan kepastian arah hidup lebih 'terarah' dan 'pasti' di sana. Kuyakin banyak yang akan mencibir. Namun, kuakui bahwa mungkin ranah kompetisi hidupku bukan dengan para pencibir atau dengan anak negeri. Aku kalah dengan mereka. Tapi, aku malah mensyukurinya. Supaya aku memiliki alasan yang kuat untuk berkompetisi dengan 'orang luar'. Alasan ini sayangnya tak ada hubungannya dengan kebanggaanku atas negeriku. Rasa banggaku tak pernah runtuh. Karena, rasa bangga terlalu jauh hubungannya dengan mencari kepastian masa depan. Nasionalisme belum tentu mendukung kepastian masa depan namun kepastian masa depanku akan memperkaya nasionalisme. Apa beda dengan para ex-patriats yang mengemis di negaraku? Tanya ke mereka bila mereka tak mengagumi negaranya? Bahkan banyak di antara mereka yang memerah anak bangsa kita demi menyalurkan obsesi serakah mereka yang tak bisa dilakukan di negaranya sendiri. Indonesia menjadi surga para pelarian para bajingan. Mulai dari para pecinta anak-anak, sampai pada mereka yang hobi berteriak stupid, d*mned, f*ck dan foolish dan segala perbendaharaan cacian kepada anak bangsa.  Para bajingan tersebut juga kuyakin bangga terhadap negaranya! Kurasa aku juga seperti mereka dalam beberapa hal. Bedanya, mereka tak suka kemapanan yang ditawarkan negaranya , tak suka dengan hukum yang ditawarkan negaranya dan mencari tempat yang longgar! Negaraku? Sayangnya menjadi surga bagi mereka.

Thursday, November 18, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh tiga


Tiga kali usaha mungkin belum cukup. Tapi tiga kegagalan ini cukup memukulku. Di luar masalah teknis, interpretasi proposal sebetulnya adalah masalah selera. Sehingga ku pikir kenapa proposal ku ditolak karena masalah selera reviewersnya. Atau mungkin masalah 'teknis' di luar teknis.

Aku memang tak berharap agar semua proposalku diterima. Namun, setidaknya satu saja cukup bagiku. Tapi, ternyata memang tak ada satupun yang diterima.

Kupikir semua mahfum bahwa membuat proposal penelitian ujungnya adalah publikasi. Dikti-pun malah mensyaratkannya. Tapi ternyata tak sedikit juga hasil penelitian yang dibiaya mereka berujung pada laporan penelitian saja. Apakah publikasi yang ku buat selama ini tak cukup? Ataukah karena sangat sedikit publikasi yang kutulis untuk jurnal dalam negeri? Atau karena ini kali pertamaku meminta dana penelitian dari sumberdana dalam negeri? Itukah ukuran kompetisi mendapatkan hibah  penelitian?

Aku masih tak tahu. Yang jelas, aku kecewa. Padahal aku sudah berangan-angan bahwa akan ada minimal dua publikasi untuk jurnal internasional.

Kenapa jurnal internasional? Ku pikir, bila kita mampu memublikasi hasil penelitian kita di jurnal Internasional, hal itu akan mengumandangkan lebih banyak lagi informasi dari Indonesia. Dan satu anganku, agar orang luar tak memandang rendah Indonesia lagi. Itu kebanggaanku. Tapi, kenapa kebanggaanku luntur oleh kondisi kompetisi mendapatkan hibah penelitian dalam negeri?

Dengan memublikasikan karyaku di jurnal internasional tak ada sekalipun aku memicingkan mata untuk jurnal dalam negeri. Aku sangat menghargainya! Namun, sejauh ini kupikir belum ada jurnal dalam negeri dalam ranah penelitianku yang telah menjadi jurnal internasional. Aku menantikannya sekaligus berencana membuatnya. Semoga saja bisa kelak, bila dunia tak berubah. Karena perubahan adalah
kondisi yang tak bisa dielakkan; entah itu dari dunia atau dari diriku.