Setiap kali ke WC di fakultas, saya selalu terpesona dengan berbagai variasi tumpukan pasir halus, yang memanjang, meliuk walau panjangnya hanya berukuran tak lebih dari 4 cm. Dasar bak yang kebetulan sama tinggi dengan lantai, berwarna putih yang diselingi berbagai variasi bentuk lekukan gundukan pasir itu menciptakan pandangan yang menawan bagaikan motif batik di atas kain putih. Pesona ini selalu kunikmati walau dipandang seukuran tinggi saya yang hanya sedikit lebih tinggi melebihi tinggi net bulu tangkis. Dalam jarak pandang itu selalu aku bertanya-tanya, apakah gerakan massa air yang tercipta saat orang menceduk air yang menciptakan keindahan ini? Pada saat yang sama kuingat juga bagaimana pergerakan massa air di pantai berpasir yang menghasilkan keindahan dasar dengan gundukan pasir meliuk. Oww... begitu mengagumkan memang kerja air, pikirku!
Siang ini akupun ke toilet, walau hanya sekejap, kunikmati pandangan serupa di dasar bak. Selesai melakukan 'bisnis kecil', kuceduk air dalam bak dan menyiram toilet. Kuperhatikan dasar bak apakah ada pergerakan tumpukan pasir. Eureka! (meminjam istilah Archimedes) Benar! Bagian dasar bak bergerak perlahan! Asumsiku benar, pikirku! Tak sia-sia aku belajar sedimentasi, transport sedimen, dll. Tapi, hei…kenapa gerakan gundukan pasir itu aneh? kenapa dia meliuk ke atas bukan malahan berpindah? Kudekatkan kepalaku walau tanpa kusadari wajahku terkena permukaan air yang memang setinggi bak. What??? Ternyata yang bergerak adalah cacing kecil yang tinggal dalam gundukan pasir! Besarnya mirip dengan cacing kremi yang sering menggelitik (maaf) dubur saat aku kecil! Langsung kubayangkan berapa banyak orang yang menggunakan air itu untuk keperluan membilas saat 'bisnis besar'? Atau juga bisnis kecil para wanita? Tapi, tunggu dulu! Mereka tak sendiri! Di kolom air berenang dengan leluasa beberapa larva nyamuk dan di dinding ada beberapa siput kecil yang menempel bersama satu-satu binatang sesile bertubuh lunak! Ck..ck..ck…Ternyata bak sekecil itu kaya organisme juga ya? Sambil membilas wajah dengan air ledeng aku berpikir, mungkin di semester mendatang pengasuh mata kuliah Biologi Perairan boleh memikirkan untuk memilih bak WC sebagai salah lokasi praktek mahasiswa?!
Monday, August 03, 2009
Friday, July 24, 2009
Catatan seratoes lima poeloeh toejoeh
Pheww, lima bulan berjalan begitu cepat. Tanpa kata terekam! Perjalanan bisu! Gambar yang terekam mata hanya berlalu, singgah sebentarpun tidak. Momen yang sempat mampir hanyalah pemilihan umum, pilpres dan bom Marriot lagi. Setelah itu lengang walaupun sebelumnyapun lengang. Sepertinya ingin ku asah hati lagi, kugincu dia sehingga memerah. Supaya walau hanya selangkah kaki melangkah akan terekam manis seperti guratan senyum diri di kaca jendela mobil di saat berkabut...
Wednesday, February 25, 2009
Catatan seratoes lima poeloeh enam
(Catatan ini dibuat tanpa maksud menghakimi tapi bila diinterpretasikan sebagai penghakiman, its up to you)
Nowadays, banyak orang yang berubah! Mengubah lifestyle dengan pemicu yang berbeda, ada yang dipicu oleh tekad yang dimaklumatkan jauh sebelumnya, ada yang dipicu karena keterpurukan (no choice), ada juga yang karena ikut-ikutan. Menjadi seorang vegetarian juga dipicu setidaknya oleh ketiga kategori itu. Orang yang mahfum informasi pasti tahu apa arti vegetarian: makan sayur, buah, tumbuh2an, alga dan tentunya bukan binatang. Walau demikian level vegetarian seseorang berbeda. Informasi yang kucuri dari internet menginformasikan tipe vegetarian dimana mungkin juga anda salah satunya. Pescatarian adalah tipe yang menghindari makan daging kecuali ikan dan vegetarian tentunya. Flexitarian/semi vegetarian, tipe vegetarian yang mengurangi porsi makan daging, selebihnya vegetarian. Lacto-Ovo Vegetarian adalah yang mengonsumsi vegetarian plus susu (lacto) dan telur (ovo). Ketiga golongan di atas adalah golongan biasa, namun ada juga golongan ekstrim: Vegan, raw vegan dan macrobiotic. Vegan adalah pure vegetarian yang tak hanya menghindari daging, telur susu dan ikan, tapi juga makanan turunan dari hewan seperti gelatin dalam makanan kaleng, atau bahkan beberapa tak minum madu. Raw Vegan adalah jenis pemakan vegetarian murni lainnya namun menghindari makanan masak atau dihangati di atas 46 derajat celcius (Wow!) dimana mereka percaya bahwa di atas suhu tersebut nilai nutrisi makanan telah berkurang. Terakhir adalah Macrobiotic di mana mereka memilih makanan yang tak diproses (tentunya vegetarian), tapi ada juga yang mengkombinasikan dengan ikan.
Menjadi vegetarian memang adalah pilihan. Namun sejauh pilihan itu dimaklumkan atas nama kesehatan diri (egois juga sih) tak masalah -walaupun asumsi ini bisa saja keliru bila diperhadapkan dengan para pemakan daging usia lanjut di Mediterrania-, tapi bila diwujudkan karena kasihan terhadap mahluk hidup dalam hal ini hewan, naif itu adanya! Apakah karena pohon tak bergerak sehingga mereka dianggap mati? Tidakkah kita melihat mereka tumbuh selayaknya binatang? Tidakkah mereka "berdarah" (mengeluarkan lendir) bila dipotong? Apakah karena kita tak mendengarkan tangisan mereka lantas mereka bisa disakiti? Bila dilihat dari kemampuan bertahan diri, tumbuhan adalah yang semestinya dilindungi. Mereka tak bisa lari bila diburu dan tak mengelak bila dipotong.
Subscribe to:
Posts (Atom)