Monday, November 20, 2006
Catatan delapan poeloeh
Minggu, 19 November 2006.
Akhirnya aku pulang juga. Pulang ke Townsville dengan segala keberadaannya. Kembali ku tempuh rute yang menyebalkan dan membosankan. Pelayanan awak Garuda yang tersenyum saat penumpang datang dan pergi saja, apalagi terhadap penumpang kulit sewarna dengan para awak, kayak diriku. Once again, Brisbane provides herself with the most complicated airport in the world, no clear signs!
Seperjalanan denganku dari Brisbane adalah para tentara muda yang memenuhi pesawat. Teringat diriku akan beberapa orang marketing staff yang lebih menginginkan ”Sambungan Langsung Jarak Jauh” dibandingkan telepon ”Lokal” saja. Mereka bisa gila berada di antara para dudes. Ku terlihat kerdil di antara mereka. Diam saja kerjaku. Saat keluar banyak penumpang yang berhasil dikerjain mereka. Dikira mereka berjalan berkumpul menuju tempat pengambilan bagasi, ternyata arahnya ke toilet pria!
Hari ini tepat seminggu aku meninggalkan Bali, kembali ke keluargaku. Terasa semuanya masih dekat denganku, sampai ku sadari ternyata banyak yang hilang.
Catatan toejoeh poeloeh toejoeh
Senin, 16 Oktober 2006.
Laki-laki Bali semestinya berbangga. Berbangga karena secara tradisi mereka memiliki nilai ”plus” dibanding wanitanya, walaupun toh mereka tak bekerja. Tanggungjawab sebagai kepala keluarga bagi laki-laki Bali sepertinya tidak mesti dilambangkan dengan ”bekerja”, toh banyak juga wanita yang bekerja untuk menghidupi keluarganya. Akupun iri dengan ”keperkasaan” laki-laki Bali. Setidaknya pada sebagian laki-laki Bali. Keperkasaan sang lelaki tercermin juga pada ”nilai” jual mereka saat menikah dan peran ”plus” dalam mengambil keputusan, tak peduli wanitanya berpendidikan atau berpenghasilan tinggi. Namun, di lain pihak, hatiku takkan bisa menahan pilu bila melihat wanita Bali yang bekerja keras sementara suaminya tidak (sebuah kasus di sepanjang jalan antara Pupuan-Seririt, ketika ku melihat sekumpulan wanita mengangkat pasir sementara pemandangan kontras di samping gundukan pasir saat sekumpulan laki-laki bercengkerama satu sama lain). Tak semua laki-laki Bali memang begitu, namun setidaknya fenomena ini mencolok mataku. Akupun mengakui bahwa di Manado kampung halamanku, ada juga yang demikian.
Thanks buat Putu Liza untuk sharing-nya
Catatan toejoeh poeloeh enam
Jumat, 29 September 2006.
Hari ini adalah hari pertamaku mengajar di Sekolah Dasar di desa Penyabangan. Kegiatan yang dulunya tak kusukai, saat di mana ku melihat betapa malangnya nasib ibu dan bapakku sebagai guru dulu. Sehingga tak terlintas dalam benakku untuk menjadi guru. Gajinya terlalu kecil untuk pengorbanan mereka. Tapi, ada semangat yang terwariskan dan tak ku mengerti sebelumnya namun aku akhirnya toh aku menikmati mengajar di sekolah minggu dan kelompok-kelompok belajar anak-anak. Ya, aku akhirnya menelan ludahku sendiri. Akupun menjadi pengajar tetap di sebuah perguruan tinggi negeri, walau ku tahu bahwa gajinya tetap kecil. Menimbulkan rasa cemburuku kepada para pegawai di instansi milik negara lainnya seperti pertambangan dan perbankan. Padahal mereka bisa karena lewat perguruan tinggi? Logikanya terbalik.
Tapi tak apalah, aku tak tahu semangat apa yang menjalari tubuhku, namun aku bertekad untuk memberikan apa yang ku punya kepada bangsaku. Bombastis kedengarannya dan klise, memang. Tapi, itulah aku. Anak seorang guru yang akhirnya menjadi guru walau tanpa gaji. Ya, di sekolah dasar ini aku mengajar tanpa digaji dan memang tak ingin digaji. Ku rasa cukup beasiswa yang kudapatkan dari pemerintah Australia untuk kebutuhanku, mengapa aku harus mengeksploitasi anak-anak bangsa yang kebanyakan terlahir dari keluarga tak berkecukupan?
Perjumpaan pertama terasa kikuk. Wajar! Tanpa kikuk kita tak merasakan bagaimana nikmatnya proses adaptasi, sebuah tahap dari evolusi. Aku mencari cara untuk mengikuti irama belajar anak-anak dan di lain pihak aku menyisipkannya dengan gayaku. Kelihatannya anak-anak menikmatinya. Pelajaran pertama adalah Ilmu Pengetahuan Alam. Well, maksud kedatanganku sebelumnya adalah untuk mengajar entah matematika atau Bahasa Inggris. Materi yang sudah disepakati dan telah dipersiapkan sebelumnya. Sesampainya di sekolah, seorang ibu guru mendekati dan memintaku mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial, kaget sebentar namun akhirnya ku menyetujuinya. Sesaat sebelum masuk kelas si ibu tiba-tiba mengingat sesuatu. Dia buru-buru ke kelas dan meninggalkanku di luar. Sebuah buku di tangannya saat dia balik. Diapun meminta maaf bahwa sebenarnya jam pelajaran waktu itu adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Akupun kaget lagi. Sesaat kemudian aku meminta waktu sejenak dari sang guru sambil membaca buku materi IPA yang dibawa ibu guru. Akhirnya akupun mengajar IPA, materi hari itu adalah tentang kandungan gizi dalam makanan.
catatan tambahan:
Aku mengajar di SD 1 Penyabangan hanya sebulan. Itupun hanya tiga kali dalam seminggu, bila aku tak sibuk dengan kegiatan rutinku. Sedih juga meninggalkan mereka...
Subscribe to:
Posts (Atom)