Thursday, October 31, 2024

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Delapan

Kadang kupikir untuk melepas hari ini dan beberapa hari ke depan berlalu, datar dan tanpa makna sekalipun. Baru kali ini kurasakan bahwa diam dan tak bekerja masih lebih indah daripada sibuk.

Monday, December 25, 2023

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Toejoeh

 Subuh pagi ini masih terdengar beberapa kendaraan melewati depan rumahku. Tiba-tiba aku bersyukur, aku sudah tidur dan siap bangun pagi sementara banyak orang masih di jalan di subuh menjelang Natal. Aku bersyukur karena tak tahun ini tak terpisah dengan keluargaku. Karir memang kadang kadang kejam. Happy Christmas to all who celebrate it and happy holiday to everyone!

Tuesday, December 12, 2023

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Enam

 Aku diajarkan untuk jangan pernah menyesal, apapun itu. Sekalipun (misalnya) aku akhirnya jadi setan, semoga tidak. Walau kumaklumi bahwa sesuci apapun manusia tetap ada setannya 😁. Secara otomatis saya tinggal di antara setan, siapa yang terbengis ya?

Kembali tentang menyesal, saya memang melumpuhkan perasaan sesal dari sesal terkecil sampai yang terbesar. Sepertinya berhasil, walau godaan selalu mengiang: "kalau seandainya kau tidak begitu pasti tidak begini".

Bukan saya sok suci atau sok alim, tapi  saya lebih melatih diri untuk belajar menerima setiap konsekuensi. Latihan memang kadang keras, kadang lembut saja datangnya. Lebih bersyukur kata orang beragama. Syukur yang kuat akan membelenggu sesal.

Monday, December 11, 2023

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Lima

Tahun melaju jauh merekam semua jejak kerja dan keras kepalaku (mungkin). Kesakitan membentuk nasib. Penuaan membentuk kesadaran dan pemahaman (bukan selalu kebijaksanaan). Saya pun memaklumi akan sebbuah kutipan dalam sebuah kitab suci berkata demikian: "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya". Persaingan, persengketaan dan kasih sayang saling berebut kedudukan, tetapi diri dibentuk oleh masalah (yang umumnya disebabkan diri sendiri dan sesama manusia).

Tuesday, July 07, 2015

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Empat

Petani tanpa pacul tidak disebut lagi petani. Kondisi ini bila menggambarkan petani Indonesia zaman dahulu atau setidaknya petani tradisional yang belum menggunakan traktor. Okela, kalau petani modern bisa dianggap bahwa bila petani itu tanpa diperlengkapi traktor atau mesin pemotong rumput maka dia tak bisa disebut petani. Analogi ini juga berlaku padaku ketika semua peralatan  kerjaku hilang dicuri. Laptop dan hard drives ku lenyap. Mereka memasuki rumahku ketika di saat yang sama aku ingin khusuk dalam ibadah kepadaNya. Rumah jelas sepi, karena semua penghuni rumah ke tempat ibadah. Selama dua hari terakhir, aku seperti kehilangan jiwa. Sebelah jiwaku telah pergi. File yang tersimpan dalam 10 tahun terakhir hilang.
Ku ingat ketika dulu aku mulai melakukan kegiatan back-up file ke dalam berbagai external hard drives untuk mengantisipasi kerusakan laptop. Tapi, aku tak mengantisipasi pencurian. Pencuri menggasak ruang kerjaku dan mebawa laptop dan semua external hard drives nya. Beberapa teman menyarankan agar aku juga memback up file ke penyimpanan maya. Akupun akan menyanggupinya. Tapi, apakah tempat penyimpanan itu akan benar-benar aman? hmmm.... ternyata, memang tak ada tempat penyimpanan paling aman di muka bumi ini :(

Sunday, March 09, 2014

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Tiga



Data menunjukkan bahwa 90% wakil rakyat yang menjadi caleg adalah anggota legislatif sebelumnya. Dari data tersebut hanya sekian persen yang benar-benar aspiratif, menyalurkan, memperjuangkan dan menegakkan kepentingan konstituen. Sebagian besar dari data itu adalah mereka yang menggunakan kesempatan menjadi anggota dewan untuk jalan-jalan, mengembangkan bisnis dan (sayang sekali) menggunakan uang rakyat hmmm…

Semarak pesta demokrasi saat ini makin menggema. Namun semarak yang ada adalah perlombaan menempelkan leaflet di berbagai tempat, memasang bendera di mana-mana dan juga banner dan posko yang semrawutan. Bila leaflet itu dikumpulkan dan dijadikan buku tulis, berapa juta anak sekolah yang terbantukan dengan adanya buku gratis? Bila bendera dijadikan selimut dan baju, berapa juta orang yang akan memiliki baju dan selimut? Dan bila banner dan posko itu dijadikan bilik rumah, berapa ratus ribu keluarga akan mendapatkan rumah yang layak? Sayang sekali…

KPU dan pemerintah menggaungkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan pemilu tanggal 9 April. Namun melihat kondisi ini, agaknya kita hanya akan memilih yang jelek diantara terjelek. Tetapi, kata hati tak selalu demikian. hasil pemilu akan mengumumkan yang terjelak dari yang jelek. So, … maaf kalau memang saya memilih pesimis, toh yang akan terpilih kita juga sudah tahu.

Monday, September 30, 2013

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Doea

Banyak yang mencuri waktu, menyibukkan diri untuk yang tak ku butuh. Ataukah aku telah salah memilih? Just take it easy, cuz love is all around :)

Friday, November 16, 2012

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh Satoe

Ah, masak tak ada pemimpin yang berani seperti Dahlan Iskan, Mahfud MD dan Ahok atau yang lembut tapi tegas seperti Jokowi, tidak nylanah-nyleneh seperti... (siapa ya) atau malah yang hanya normatif seperti... (siapa juga ya?). Kalo mimpin gaya normatif mah semua bisa tinggal dikasih otak. Toh negara ini akan berjalan dengan sendirinya. Gak perlu ada pemimpin bangsa yang cepat tanggap, toh rakyat akan bergerak dengan tangkasnya saat bencana. Saat resesi pelaku ekonomi akan berusaha membenahi diri dengan atau tanpa sang pemimpin normatif itu. Atau, ada juga sang pemimpin de ja vu, yang menginginkan masa lalu kembali lagi seperti saat ini. Dikira penduduk masa lalu itu hanya itu-itu saja, gak ada regenerasi. Dikira juga penduduk saat ini hanya bisa membedakan mobil dan motor saja? Mereka sudah bisa membedakan mana Avanza dan mana Fortuner, Bos! Jangan bermimpi ke belakang lah. Masa revolusi dulu hanya pake bambu runcing, sekarang semua tinggal klik.

Citra mencitrakan tak keliru, tetapi tak perlu lewat kata-kata. Kerja sono! Kerja yang banyak! Pikir banyak gak sampe keringetan dan keriputan gak terlelu penting. We need a leader equipped with a smart thought and fast action! Its already too late if we have to do lots of thinking! Debat bolehlah, tapi actionnya cepat! Jangan debatnya makan setahun sampai Undang-Undang menggantung. Setiap keputusan pasti ada resiko, lebih baik beresiko daripada milih diam. Sehingga kisruh makin dalam. Itu lebih beresiko Om. Lho koq Om? Tantenya mana? Well, tantenya katanya lagi sedih mikirin rakyat....(mikir mulu).

Thursday, August 09, 2012

Catatan Seratoes Toejoeh Poeloeh

Hampir setahun tak ada goresan tulisan, padahal begitu banyak goresan yang tak tertulis tapi mewarnai hari-hari. Tak apa karena bagiku, bila memang tak tertulis dia tetap ada di dalam peradaban. Menggema dari zaman ke zaman, walau mungkin hanya lewat rasa dan de ja vu. Tak peduli bahwa hari itu bergores merah atau hitam tetapi saat ini memang aku butuh semangat! Sepertinya dia hilang terlalu lama bersama kuatir, terlalu asik bercengkerama bersamanya. Sayang sekali dia selalu dihimpit kuatir sehingga pada permainan petak umpet kali ini dia tak berani muncul. Terlalu jauh dia lari.

Dikala gundah pada ketaktentuan, ku terkesima pada pernyataan seorang temanku tentang kemerdekaan diri dan keterbatasan sosial ketika ada yang mengklaim bahwa menjadi salah satu bagian dari negara, agama dan suku merupakan pernyataan kekerasan. Dan ini digaungkan oleh salah satu tokoh yang aku kagumi. Sayang sekali pemahaman ini sebetulnya mengekang kebebasan dan merupakan bagian dari kekerasan. Untung saja temanku menghilhamkan hal yang penting bahwa "keterikatan" pada sesuatu yang kita ingini atau bahkan pujai sebetulnya adalah kebebasan kita. Yang menjadikan dia beratribut kekerasan ketika kita merasa superior atas kelompok sejenis lainnya; yang terbaca sebagai dominasi/tekanan mayoritas dan/atau tirani kaum minroitas. Inilah kekerasan yang sebenarnya!

Terlepas dari itu, aku butuh semangat tambahan hari ini! Tapi kepada siapakah kan kuminta?

Friday, November 11, 2011

Catatan seratoes enam poeloeh sembilan


Mau dikemanakan publikasi-publikasi internasionalku?


Semenjak ngambil PhD motivasiku adalah publikasi. Sebanyak mungkin publikasi yang bisa dibuat bahkan dari hasil Thesis maupun disertasi. Karena, bagiku, buat apa bikin penelitian tanpa publikasi? Karena penelitian tanpa publikasi akan (menurutku) menambah duplikasi riset yang sama yang tak terkontrol, kedua adalah menyampaikan ke khalayak hasil penelitianku atau kelompok penelitiku, ketiga tentu saja bisa menambah nilai kredit untuk naik pangkat atau jabatan sebagai dosen. Nah, yang ketiga ini yang utama, karena profesi dosen adalah tempat ku mencari sesuap nasi, well setidaknya ada 4 suap buat seluruh anggota keluargaku. Tapi apa daya, ternyata peraturan saat ini tak memungkinkan aku untuk maju selangkah saja. Tiga publikasi yang dihasilkan saat sekolah gak bisa dipakai. Dua publikasi tambahan yang dikerjakan di luar Disertasi pun terancam hilang. Nasib oh nasib.... jadi mau dikemanakan publikasi-publikasi ini:


1) Use of anaesthetics with the silver-lip pearl oyster, Pinctada maxima (Jameson)

2) Regeneration of excised mantle tissue by the silver-lip pearl oyster, Pinctada maxima(Jameson)

3) Assessing pearl quality using reflectance UV-Vis spectroscopy: does the same donor produce consistent pearl quality?

Atau dua co-authored publikasi:

4) Molluscan diversity at Bunaken National Park, Sulawesi

5) Arthurius bunakenensis, a new tropical Indo-Pacific species of endoparasitic copepods from a sacoglossan opisthobranch host (Crustacea, Copepoda, Poecilostomatoida, Splanchnotrophidae)


Takutnya lagi jangan-jangan publikasi bersama di bawah ini juga turut dianulir?:

Molecular phylogeny of Pholadoidea Lamarck, 1809 supports a single origin for xylotrophy (wood feeding) and xylotrophic bacterial endosymbiosis in Bivalvia

Monday, October 24, 2011

Catatan seratoes enam poeloeh delapan

Sakit memang, ketika banyak yang tak peduli. Mereka tak mengerti bahwa ini adalah perjuangan bersama! Tapi kenapa tetap saja ada yang berpikir :"biarlah mereka yang berjuang"? Mengapa hanya sebagian yang memberi karsa dan karya sementara banyak yang hanya memberi ide? Ide sudah menumpuk Pak? Bu? Yang kami butuhkan adalah kerja! Kepedulian adalah usaha anda bukan hanya memberi ide tetapi meyakinkan bahwa ide itu terwujud. Apakah terlalu susah bila anda menyempatkan waktu anda sejenak mencari berkas pribadi anda yang nanti akan dipakai dalam penyusunan dokumen, dimana sang dokumen itu sendiri adalah penjamin keberadaan anda sendiri? Kami tak butuh penghargaan atas usaha kami, kesudian mengorbankan waktu anda adalah penghargaan yang paling tinggi... kami tak butuh lebih!

Monday, October 03, 2011

Catatan seratoes enam poeloeh toejoeh

Mungkin yang membaca blog ini sering mendapatkan pengeluhan dibandingkan ungkapan kesenangan. Ku akui, mungkin karena disaat susah aku cenderung menulis. Jarang di saat senang! Semua menggumpal, membongkah dan menggunung!... (maaf tak bisa kutulis lebih)

Tuesday, June 07, 2011

Wednesday, April 06, 2011

Catatan seratoes enam poeloeh lima


Hari ini aku mencoba berjalan bersama angan. Waktuku tersita dan tak mengizinkan hayalku untuk menjelajahi misteri alam dan waktu. Semuanya hilang demi mendapatkan ongkos hidup. Apakah aku salah memilih sehingga ongkos hidup tak sesuai harapan? Ah, tak apa. Kata orang sabar sedikit. Mungkin  kesabaran itu ada manfaatnya kelak.

Tapi minggu ini, aku menyempatkan untuk mengasah hayalku lagi. Sekalian membentuk alur masa depanku. Mendapatkan alternatif jalan A sampai Z menuju ke Roma yang katanya banyak jalan masuknya. Bagiku, menjadi dosen jangan miskin. Namun, menjadi dosen yang mengandalkan mahasiswanya sebagai sumber ongkos hidupnya  tak lebih dari seorang pemeras. Hartanya penuh dengan sumpah serapah dan kutukan. Aku tak mau itu. Aku tak mau sumpah serapah dan kutukan menyertai mobil, rumah dan kesenanganku. Kalau toh kelak aku memilikinya.

Sayang sekali, figur dosen cukup dilematis. Apalagi pada universitas yang sedang berkembang. Ketika tuntutan memenuhi tri darma (pendidikan & pengajaran, penelitian, dan pengabdian) dipenuhi, tuntutan itu tak dibarengi dengan hak yang semestinya diterima. Sayangya....

Wednesday, December 15, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh empat


Suasana hati ini begitu tak menentu tapi sungguh menyenangkan
Tak menentu karena banyak yang simpang siur di jalan hidupku namun menyenangkan karena setidaknya ada momen yang membekas dan tentu saja membahagiakan
Godaan untuk kembali ke luar negeri cukup kuat. Godaan untuk kembali ke mimpi-mimpi yang pernah hilang. Walau tak bisa dipungkiri ada banyak kebosanan juga di sana, namun kemapanan dan kepastian arah hidup lebih 'terarah' dan 'pasti' di sana. Kuyakin banyak yang akan mencibir. Namun, kuakui bahwa mungkin ranah kompetisi hidupku bukan dengan para pencibir atau dengan anak negeri. Aku kalah dengan mereka. Tapi, aku malah mensyukurinya. Supaya aku memiliki alasan yang kuat untuk berkompetisi dengan 'orang luar'. Alasan ini sayangnya tak ada hubungannya dengan kebanggaanku atas negeriku. Rasa banggaku tak pernah runtuh. Karena, rasa bangga terlalu jauh hubungannya dengan mencari kepastian masa depan. Nasionalisme belum tentu mendukung kepastian masa depan namun kepastian masa depanku akan memperkaya nasionalisme. Apa beda dengan para ex-patriats yang mengemis di negaraku? Tanya ke mereka bila mereka tak mengagumi negaranya? Bahkan banyak di antara mereka yang memerah anak bangsa kita demi menyalurkan obsesi serakah mereka yang tak bisa dilakukan di negaranya sendiri. Indonesia menjadi surga para pelarian para bajingan. Mulai dari para pecinta anak-anak, sampai pada mereka yang hobi berteriak stupid, d*mned, f*ck dan foolish dan segala perbendaharaan cacian kepada anak bangsa.  Para bajingan tersebut juga kuyakin bangga terhadap negaranya! Kurasa aku juga seperti mereka dalam beberapa hal. Bedanya, mereka tak suka kemapanan yang ditawarkan negaranya , tak suka dengan hukum yang ditawarkan negaranya dan mencari tempat yang longgar! Negaraku? Sayangnya menjadi surga bagi mereka.

Thursday, November 18, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh tiga


Tiga kali usaha mungkin belum cukup. Tapi tiga kegagalan ini cukup memukulku. Di luar masalah teknis, interpretasi proposal sebetulnya adalah masalah selera. Sehingga ku pikir kenapa proposal ku ditolak karena masalah selera reviewersnya. Atau mungkin masalah 'teknis' di luar teknis.

Aku memang tak berharap agar semua proposalku diterima. Namun, setidaknya satu saja cukup bagiku. Tapi, ternyata memang tak ada satupun yang diterima.

Kupikir semua mahfum bahwa membuat proposal penelitian ujungnya adalah publikasi. Dikti-pun malah mensyaratkannya. Tapi ternyata tak sedikit juga hasil penelitian yang dibiaya mereka berujung pada laporan penelitian saja. Apakah publikasi yang ku buat selama ini tak cukup? Ataukah karena sangat sedikit publikasi yang kutulis untuk jurnal dalam negeri? Atau karena ini kali pertamaku meminta dana penelitian dari sumberdana dalam negeri? Itukah ukuran kompetisi mendapatkan hibah  penelitian?

Aku masih tak tahu. Yang jelas, aku kecewa. Padahal aku sudah berangan-angan bahwa akan ada minimal dua publikasi untuk jurnal internasional.

Kenapa jurnal internasional? Ku pikir, bila kita mampu memublikasi hasil penelitian kita di jurnal Internasional, hal itu akan mengumandangkan lebih banyak lagi informasi dari Indonesia. Dan satu anganku, agar orang luar tak memandang rendah Indonesia lagi. Itu kebanggaanku. Tapi, kenapa kebanggaanku luntur oleh kondisi kompetisi mendapatkan hibah penelitian dalam negeri?

Dengan memublikasikan karyaku di jurnal internasional tak ada sekalipun aku memicingkan mata untuk jurnal dalam negeri. Aku sangat menghargainya! Namun, sejauh ini kupikir belum ada jurnal dalam negeri dalam ranah penelitianku yang telah menjadi jurnal internasional. Aku menantikannya sekaligus berencana membuatnya. Semoga saja bisa kelak, bila dunia tak berubah. Karena perubahan adalah
kondisi yang tak bisa dielakkan; entah itu dari dunia atau dari diriku.

Thursday, October 14, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh doea: Indomie oh Indomie...


Aku memang bukan penggilamu. Jadi, jangan kau pernah merasa tersanjung.Sejak dulu aku didoktrin bahwa kalau makanan instant pasti punya pengawet. Sehingga akupun berusaha menghindari memakanmu sebisaku. Tapi, walau kenanganku denganmu sedikit kau lebih melekat di nadiku daripada makanan instan lain. Nama Indomie-mu itu mungkin yang membuatmu nempel terus kayak perangko.
Kuingat lebih dari  dua belas tahun yang lalu di kota kecil bernama Aarhus. Sebuah kota yang jauh dari nafas Indonesia dulu. Walau kota ini terbesar kedua setelah Kopenhagen tapi kupikir ukuran kota ini belum mampu menandingi Manado. Karena dalam sehari saja aku bisa mengelilinginya dengan sepeda.

Di kota ini cintaku pada Indomie terjelma. Setelah kemampuan adaptasi terhadap makanan cukup lumayan (pizza setiap saat lunch dan roti saat breakfast) ternyata kemampuan adaptasi ini tak menyurutkan rasa kangen akan rasa Indonesia. Kupikir, aku bisa bertahan tanpa makanan Indonesia. Namun, kemampuan adaptasi toh surut juga dengan rasa kangenku. Syukurlah, di pojokan pertokoan dekat gereja yang sekali setahun saja dikunjungi orang kudapatkan makanan mirip Indomie. Tom Yum kata mereka. Padahal nama itu merujuk pada makanan khas Thailand. Jadi yang dijual di toko saat itu adalah makanan khas  Thailand yang dikeringkan seperti  Indomie. Tak masalah, kupikir Tom Yum akan mengobati rasa rinduku, kan sama bentuk dan kemasannya? Untuk pertama kalinya aku merasakan makanan Thailand yang ternyata (maaf) kesan pertamaku tak mengenakkan. Asam rasanya! Kupaksa juga dengan Tom Yum ini yang ternyata memaksa bosanku untuk memberikan sisa bungkusan yang ku beli kepada teman ku. Bosan yang tidak hilang walaupun kudapatkan juga Kopiko dari Mayora di toko yang sama.

Kangenkupun terbayar sudah. Walau cukup lama menunggu, di sebuah toko dekat halte bis di pusat kota, kudapatkan indomie. Ku tahu, teman-temanku pun kangen akan dia. Tapi aku lupa kalau siapa duluan menemukannya. Yang jelas, saat itu juga kangenku muncul. Ku borong berbungkus-bungkus indomie, kusediakan stok untuk beberapa hari ke depan. Ternyata, benar! Indomie memang enak dan praktis. Dialah yang membangkitkan rinduku pada kampung.

Enam tahun kemudian aku ke Australia. Di sana Indomie malah ditawarkan dalam berbagai variasi. Andalanku, mie goreng dan mie kuah rasa soto. Walau McD dan KFC ada di mana-mana dan praktis. Indomie tetap saja menemaniku ku dan keluarga. Kepraktisan Indomie bila tengah malam tiba dan malas menyambangi McD dan KFC (padahal keduanya juga makanan instan yang tak menyehatkan). Kepraktisan indomie juga terjelma saat asyik kerja di rumah sendiri dan lapar tiba-tiba datang.

Sayangnya, makanan praktis memang bukan tanpa efek. Walau ku berusaha menghindarinya namun daya magisnya kuat. Aku kecanduan! Sayangnya itu hanya berlaku di luar negeri. Kumemakluminya. Karena ku pikir rasa indomie memang wajar mewakili rasa Indonesia. Sementara rasa Indonesia susah dibedakan bila dimakan di Indonesia pula.

Ini obituariku tentang Indomie yang tinggal menunggu hari lenyap dari Taiwan. Salam kangenku.

Wednesday, September 22, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh satoe

I miss you daddy... Pagi ini aku bangun dan mengingatmu. Tak banyak lagi mimpi-mimpi mu yang harus ku capai. Bahkan banyak yang sudah melampaui mimpimu. Tapi, kau tak bersamaku saat mimpi-mimpi itu kucapai. Kau telah jauh, daddy. Ini adalah bagian dari Thesis S3 ku...: 
"This Thesis is dedicated  to my Dad, who already went home: hope you could forgive me, Dad?"

Thursday, April 15, 2010

Catatan seratoes enam poeloeh

Catatan saat menyimak Everybody hurts by R.E.M

Rasanya tak ada yang tak pernah terluka. Tak penjaga makam mbah Priok tak juga satpol PP dan polisi. Tak Susno tak juga Syahril tak juga Gayus. Tak jauh di seberang pagar rumah ada yang terluka, apalagi di seberang pulau. Jangan ke tetangga, di seberang kamarpun demikian. Di seberang hati ada yang terluka. Tak ayah, tak ibu, tak juga anak. Banyak yang terluka. Pelukaan yang terwariskan dari manusia yang paling primitif sekalipun. Pelukaan yang juga akan terbawa sebagai warisan cicit kelak.
Kita semua terluka tapi kita juga pembuat luka! Tak peduli besar atau kecil luka kita. Sesuatu yang tak pernah kita undang tapi selalu saja ada cara untuk datang.

Thursday, April 01, 2010

Catatan seratoes lima poeloeh sembilan

Bagai angin gurun saja ketika lebih setengah tahun terlewati. Tak banyak jejak. Kecuali pasir bergunduk-gunduk yang tak tahu dari mana dia berpindah. Dia juga tak tahu kapan dan di mana dia menetap. Dia menunggu angin. Dia menunggu ketaktentuan!